• SELAMAT DATANG DI PORTAL PEMERINTAH KOTA SEMARANG
  • BE SMART CITY : Based on E-gov, Semarang More Accountable, Realistic and the Transparent City.
  • CyGoS (Cyber Government : Semarang) - Cyber Administration, Cyber Information, Cyber Public Service, Cyber Licensing, Cyber Marketing City, Cyber Planning, etc 

Wali Kota Semarang : Generasi saat ini bukan waktunya berperang tapi berprestasi bagi bangsa dan negara

 06-11-2017 15:39 WIB    by Admin    Dilihat: 134 kali Berita Kota
Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November mendatang, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menggelar pertemuan antar generasi saresehan kepahlawnaan di Gedung Moch Ikhsan Ruang Komisi C, Kompleks Gedung Balaikota Semarang.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam sambutanya sebelum membuka acara menegaskan, pemuda sekarang ini bukan waktunya lagi untuk berperang mengangkat senjata melawan penjajah. Namun, makna pahlawan bagi pemuda saat ini adalah mengukir prestasi yang bermanfaat bagi negara dan bangsa.

"Karena sekarang ini sudah bukan waktunya berperang lagi. Seorang pahlawan saat ini adalah bagaimana adik-adik mempunyai sebuah prestasi yang secara tulus, ikhlas tanpa pamrih, prestasi itu bermanfaat untuk bangsa negara dan lingkungan sekitar," tegas Wali Kota Hendrar Prihadi sebelum membuka acara saresehan pertemuan antar generasi di Balai
Kota Semarang Senin (4/11).


Hadir dalam acara; Kabid. Pemberdayaan Dinas Sosial Provinsi Jateng Swadiyo Basuki. Kemudian sebagai nara sumber saresehan DR Sudartho dari DHD 45 Provinsi Jateng. Joko  dari Kesbangpol Pemkot Semarang, Ketua Karangtaruna Gde Ananta Wijaya, Ketua LVRI Hari Widodo. Juga beberapa perserta dari Pepabri, PWRI, Pelaku Pertempuran 5 Hari Kota Semarang, berbagai Ormas dan Pelajar di Kota Semarang.

Pria yang akrab disapa Wali Kota Hendi mencontohkan, salah satunya pasangan pemuda yang menjadi pahlawan di Indonesia saat ini adalah seperti pebulutangkis Tantowi Yahya dan Liliana yang menjuarai All England di event olahraga internaisonal Olympiade.

"Contohnya, kenal tontowi dan Liliana nggak? Nah, itu adalah contoh pahlawan olahraga. Disaat Indonesia terpuruk, Tontowi ahmad dan Liliana mengangkat nama Indonesia jadi juara dunia bulutangkis. Juara All England," ucap Wali Kota Hendi.Hendi menyatakan, masih banyak cara lain untuk menjadi pahlawan selain seperti Tontowi dan Liliana yang harus bertanding di cabang olahraga bulutangkis untuk mengharumkan nama Indonesia.

"Saya rasa, hari ini saya bertemu dengan anak muda Kota Semarang, adik-adik ini bisa menjadi pahlawan bangsa di kemudian hari ini juga boleh. Caranya gimana Pak Wali?  Pasti caranya banyak. Kalau kita bicara generasi sekarang, caranya banyak. Adik-adik ini kan pasti punya kesempatan untuk bersekolah lebih baik, lebih tinggi dari generasi berikutnya. Tekuni itu. Cuman, pertandingan sesungguhnya
bukan pada saat adik-adik sekolah hari ini," kata Hendi.

Hendi juga mengungkapkan,  pertandingan yang sesungguhnya bagi para  pemuda lainya jika mereka akan masuk di dunia kerja yang nyata.
"Pertandingan sesungguhnya saat adik-adik memasuki dunia kerja. Kompetisinya sudah sedemikian luar biasa. Tidak hanya dengan kawan-kawan di warga negara Indonesia. Dengan adanya NAFTA itu, semua kemudian bisa bekerja di seluruh ASEAN. Ketemu sama insinyur Thailand kerja di Indonesia. Boleh. Ketemu sama dokter dari Philipina kerja di Indonesia boleh. Demikian sebaliknya," ungkap Hendi.

Hendi tidak menginginkan jika pemuda saat ini jangan sampai terjebak pada  kegiatan rutinitas belaka. Pasalnya, persaingan dunia pendidikan dan lainya saat ini justru bertambah sangat tajam dalam kompetisi. "Jadi kalau hari ini adik-adik belajarnya hanya linear saja, kerjanya hanya monoton saja, pagi jam 7 masuk sekolah, sore kemudian pulang sekolah main sama temanya menonton TV, tidur nbesok sekolah lagi, tidak akan bisa bersaing. Persainganya sudah sangat berbeda. Persainganya sudah berbeda di kemudian hari sudah sangat tajam sekali," terangnya.

Hendi juga menginginkan pemuda saat ini selain berprestasi di bidang akademik, juga berprestasi dibidang non akademik.
"Hari ini saya selalu sampaikan kepada anak muda yang ketemu dengan saya, terutama warga Semarang. Saya pingin selalu mereka bisa menguasai bahasa asing. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin atau apapun. Saya kepingin mereka juga punya prestasi non akademik. Juara basket, juara bulutangkis, juara apapun. Juara tari, tari. Hari ini saya tadi ke SMP Negeri 8, adik-adik kita juara fotografi tingkat nasional. Ya itu hal yang harus kita dorong, kita apresiasi," ujarnya.



Hendi menyatakan jika pada era sekarang ini menilai seorang pemuda berprestasi dalam hal fisiknya saja. Apalagi, di era milenial saat ini yang dibutuhkan
adalah generasi muda yang kreatif, inovatif dan cerdas otaknya.

"Bahwa hari ini, kita tidak menilai orang lagi dari sisi fisiknya. Si A itu top karena dia anaknya orang kaya. Udah tidak begitu. Si B itu ganteng atau cantik, udah tidak begitu. Si C itu luar biasa karena selalu pakaianya bermerek, nggak. Hari ini yang dibutuhkan oleh negara kita, yang dibutuhkan oleh Kota  Semarang adalah anak muda yang syarat prestasi. Bajunya sederhana, ok. Generasi milenial memang begitu. Sudah tidak pakai tas bermerek lagi. tapi, pikiranya selalu pikiran yang inovatif. Otaknya selalu pintar. Kemudian fisiknya selalu mendukung dia untuk berprestasi. Itu adalah calon pahlawan bangsa," tuturnya.

Hendi menilai jika di era sekarang ini bukan jamanya lagi mengukur prestasi dari kemapuan kekuatan fisik saja. Seperti melakukan aksi tawuran dan trek-trekan saja dianggapnya sebagai kegiatan yang ketinggalan jaman.

"Kalau hari ini  di lingkunganmu masih ada orang-orang yang berbicara meraih prestasi dengan cara memamerkan kekuatan fisik itu pasti ketinggalan jaman. Yuk, sekolah  sana diserbu yuk, supaya kita ngetop. Tawuran, ini aku udah bawa ini nih. Wah itu sudah ketinggalan jaman. Yuk, sekolah sana dijaki yuk, trek-trekan di jalan raya. Ah itu, sudah jadul. Pasti diketawain karena hari ini kita butuh anak muda yang sudah siap untuk kemudian memimpin bangsa ini dengan cara menjadi pemimpin di lingkungan sekolah," cetusnya.

Mengutip pribahasa Bung Karno, Hendi menilai jika Bung Karno meyakini semangat pemuda bisa mengharumkan nama baik dan mampu mengguncang bangsa dan dunia.

"Saya dulu juga pernah jadi anak muda. Saya kemudian tidak langsung lahir jadi seperti ini. Semuanya berproses adik-adik sekalian. Saya hanya mencermati begini, anak muda itu pasti semangatnya luar biasa. Bakhan Bung Karno mengatakan, beri aku seribu orangtua, akan aku cabut semeru dari akarnya. Tapi Bung Karno mengatakan beri aku 10 pemuda kan kugoncang dunia. Nah itu benar," tandasnya.

Yang menjadi kelemahan pemuda saat ini, menurut Hendi adalah dari segi sisi emosionalnya dan tidak mempunyai modal untuk berjuang, berkreatifitas dan berkarya.

"Pernah dengar tawuran orangtua? Nggak ada.Saya sudash menghitung jumlah anak muda di Kota Semarang maupun di Indonesia selalu mendominasi. Semangatnya, idealismenya, kepandaianya pasti beigtu. Pasti tumbuh berkembang disaat muda. Kelemahanya cuman satu, emosionalnya dan yang kedua, tambah satu lagi biasanya anak muda biasanya duite rung okeh," terangnya.

Selain itu, karena kedua kelemahan itu pemuda jangan sampai mau diakali oleh orang yang bermodal. Hendi pun bercerita pengalamanya dimana ada pemuda yang rela menjual harga dirinya untuk mendemo Pemkot Semarang.

"Kalau sudah begitu, anda jangan mau diakali sama orang lain. Duite nggak okeh, kene tak kumpulke. Ki ono wong 100 sak wong tak kei satus ewunan. Terus tugasnya apa pak? Itu didemo  itu Pemerintah Kota Semarang, nah akhirnya jadi pemain bayaran. Dia tidak punya lagi idealisme. Yang begitu anda harus paham sekali. Demo boleh, pada saat itu kita berbicara sesuatu yang benar. Tapi kalau demonya karena dibayar oleh orang, berarti anda sudah menjual harga diri anak muda Indonesia," bebernya.

Hendi juga menghimbau kepada pemuda di Kota Semarang untuk tidak mudah dininabobokan oleh pujian oleh generasi sebelumnya. Sehingga, sikap dan sepakterjang pemuda di Kota Semarang tidak tumpul. "Tapi, saya anak muda ini kok selama kemarin-kemarin di Kota Semarang kok tumpul. Sudah moncer dijaman muda tapi dia tidak bisa menjadi bagian pemimpin. Oh ternyata, maaf ini generasi diatasnya, saya tidak bermaksud menyindir. Ternyata, anak-anak muda selalu dininabobokan oleh generasi diatas. Apa itu? Wah kamu hebat, kamu nanti pasti jadi calon pemimpin wah anak mudanya pasti seneng. Mukanya sudah berbinar-binar. Baru diomongi calon pemimpin," pintanya.

Hendi justru menyatakan generasi muda saat ini sudah menjadi bagian dari seorang pemimpin baik di bangku sekolah maupun pada kegiatan-kegiatan kepemimpinan di luar sekolah.  Sehingga kiprah dan peranya sebagai pemimpin menjadi investasi dan modal dirinya untuk menjadi pemimpin masa depan.

"Padahal, menurut saya, adik-adik sudah bisa jadi bagian pemimpin. Bukan calon lagi. Pemimpin nggak harus jadi Wali Kota. Pemimpin adik-adik bisa belajar di sekolah. Memanage itu, kawan-kawan di satu sekolah. Kemudian punya satu keberanian lagi memanage kawan-kawan diluar sekolah. Akhirnya ini investasi nama," katanya.

Hendi menambahkan, investasi nama bagi pemuda dalam memimpin akan menjadi peluang pemuda itu sendiri untuk menjadi figur pemimpin di Kota Semarang.

"Hari ini yang paling penting selain adik-adik belajar, bagaimana melakukan investasi nama. Investasi nama bukan sesuatu yang sulit. Sing penting berbuat baik, orang lain merasakan kebaikan adik-adikkemudian ini jadi suatu ceirta yang nanti selalu positif. Kalau nanti  ada peluang adik-adik jadi pemimpin maka nanti pasti adik-adik bida direkomendasikan," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemberdayaan Dinas Sosial Provinsi Jateng Swadiyo Basuki menjelaskan jika peringatan Hari Pahlawan ke 72 kali ini bertujuan menghormati perjuangan para pahlawan. Kemudian juga untuk mempertahankan kemerdekaan.

"Dalam peringatan Hari Pahlawan ke 72 ini mengangkat tema; Perkokoh Persatuan Membangun Negeri . Tema teresebut terkandung mengenang dan menghormati perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan," jelasnya.

Adapun rangkaian dalam kegiatan Peringatan Hari Pahlawan kali ini, Swadiyo terdiri dari bergaia macam kegiatan mulai dari upacara bendera peringatan sampai acara tabur bunga di Pantai Tanjung Emas Kota Semarang.

"Peringatan Hari Pahlawan ke 72 tingkat Provinsi Jawa Tengah terdapat beberapa rangkaian kegiatan diantaranya, acara pokok pada hari Jumat  (10/11) ; upacara bendera di Kantor Gubernur Jawa Tengah, upacara ziarah nasional di TMP Giri Tunggal, upacara tabur bunga di laut, upacara bendera di setiap instansi pemerintah," jelasnya.

Selain itu, pada Hari Peringatan Pahlawan ke 72 ini akan dilakukan prosesi menghentingkan cipta bersama tepat pada pukul 18.45 WIB secara serentak. "Kemudian mengheningkan cipta serentak pada pukul 08.15 WIB dan pengibaran bendera merah putih satu tiang penuh di setiap rumah dan lingkungan penduduk," bebernya.

Suwadiyo menyatakan kunci sukses menuju terciptanya bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengimplementasikan nilai kepahlawanan jika disertai dengan penguasaan ilmu dan teknologi. "Nilai kepahlawanan sebetulnya merupakan kunci sukses menuju terciptanya bangsa yang besar. Implementasi nilai kepahlawanan tersebut apabila dibandingkan penguasaan ilmu dan teknologi memberdayai akan menjadi daya dorong sumber daya ungkit yang luar
biasa dalam menggerakan roda pembangunan nasional," ujarnya.

Suwadiyo menambahkan, tidak heran, jika tokoh Proklamator Bung Karno menyatakan jika hanya bangsa besar yang menghargai pahlawanya akan menjadi bangsa yang besar. "Hingga tidaklah mengherankan jika salah seorang the founding father kita yaitu Ir Soekarno pernah mengungkapkan bahwa hanya bangsa yang menghargai jasa pahlawan dapat menjadi bangsa yang besar,"pungkasnya